Ketika malam mengaduh gelap


Ssssttt…. Diamlah sejenak kata si pagi kepada siang,
Ada apa pagi, mengapa kau suruh aku diam, bukankah kau tau aku suka bernyanyi sambil bekerja..Ini memang sudah kegemaranku” sahut si siang.
Pagi   : Apa kau tidak tau siang, aku perlu berkonsentrasi menyiapkan persentasiku..
Siang  : Weleh…weleh, tidak bisa kah kau sedikit menikmati senandung ku pagi..??
pagi : tentu saja tidak, sudah ku bilang aku perlu berkonsentrasi, aku tidak mau pekerjaanku berantakan seperti dirimu.
Siang  : Maksudmu pagi??? Aku selalu menyelesaikan pekerjaan ku tepat waktu walaupn memang kurang rapi sepertimu.
Pagi   : Sadar juga kau siang, untuk saja bos kita tidak mengusir mu karena tingkahmu yang berantakan itu.

Ribut saja kalian ini, tiba-tiba senja datang.
Tidakkah kalian lihat sahabat kita malam sedang sedih.
Pagi   : ada apa pula dengan si malam, bukankah pekerjaannya sangat ringan, tak perlu dia capek-capek seperti aku dan siang.
Siang  : kebanyakan tidur rupanya dia, atau kurang bersenandung mungkin. Makanya tak ceria hidupnya seperti hidup ku.
Senja : tak setia kawan kalian ini, bukanya menghibur.
Malam  : sudahlah senja, memang aku tak pentas unutk di hibur,
Tak seperti kalian yang giat bekerja, aku memang terlahir untuk diam, tak punya arti dimata bos rupanya sudah aku.
Pagi   : janganlah bicara seperti itu lam… kau sudah cukup menjalankan tugasmu.
Siang  : iya lah malam,  benar kata si pagi. Memangnya bos ada bicara apa ?
Malam : tidak, tak satupun kata kelluar dari mulut si bos, justru karena itu aku berpikir sepertinya aku tak diperlukan lagi. Aku merasa suram alias gelap kali hidup ku ini. Tak bermakna rupanya bagi orang lain. Tidak seperti kalian,
kau pagi.. Setiap hari bos tersenyum dan memberimu setumpuk pekerjaan untuk dimulai. Kau siang… setiap hari, meski dengan wajah lelah bos datang mencarimu menagih dan menanyakan pekerjaanmu yang tak rapi itu.
Dan kau senja.. Setiap hari bos tersenyum dan selalu bercerita dengan mu tentang semua hal  yang ia selesaikan hari ini.
Sedangkan aku… setiap bertemu ku, bos hanya duduk diam, seolah tak ada yang dapat kulakukan selain menemaninya diam. Tak bisa ku memberikanya cahaya dan semangat serta kelegaan seperti kalian. Yang kuberikan hanya gelap, sepi dan diam. Sering kutanyakan dimana peranku, apakah aku benar-benar diperlukan? Sedih kali nasibku ini teman.

Pagi : sempit kali pikiranmu sahabat ku, lama aku jadi temanmu tak pernah sekalipun aku berpikir tak ada gunanya kau disini. Kediamanmu membuat ku nyaman bekerja, tak seperti si siang, ribut setiap hari. Saat lelah datang, kau buat kami nyaman dengan gelap mu. Jangan kau tanyakan peranmu di sini, jalankan saja apa yang memang sudah ditulisakan si bos untuk kau kerjakan. Ketika kau diminta menjadi si malam yang gelap, sepi dan diam, maka jalankan saja. Selalu ada maksud dan tujuan untuk semua itu.
Ditempat ini, hanya kau yang bisa membuat bos kita itu diam dan beristirahat sejenak dari kebisingan dan keruwetan pekerjaan yang harus ia selesaikan. Janganlah lagi kau mengaduh akan gelap , sepi dan diam mu. Karena 3 hal itulah yang menjadikan mu berarti dimata kami.

Siang : betul itu malam,, Cuma seorang malam yang dapat memberikan ketenangan dan perlindungan dikala kami lelah. Kita memang berbeda, kita punya peran masing-masing, tak perlu kau lihat aku, pagi dan senja. Lihat saja di dalam dirimu sendiri, apa yang kau miliki itulah arti dirimu, hargai dan bersyukurlah sobat. Karena tak semua orang memiliki semua hal pada dirimu.

Senja: ya, kita semua unik. Aku, kamu, dia.

wennydanceritasebuahpena
Minggu, 29 November 2009
Pukul 20.05, balkon kos tercinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s