tembok pendidikan


Penerus bangsa berpakaian lusuh menyanyi di tengah terik matahari

Penerus bangsa berpakaian lusuh menengadahkan tangan di antara mobil-mobil berplat merah..

Tak satupun dari mereka, mengaduh malas,

Entah karena tlah terbiasa dengan sengatan matahari atau mulut tlah letih mengaduh…

Hampir setiap hari, mereka lewati bangunan-bangunan berisi para penerus bangsa lain,

Beberapa dari mereka berhenti sejenak dan mengintip,

Beberapa lainnya hanya melintas, terlalu sibuk memikrkan nasib perut mereka siang ini.

Tak dihiraukan oleh angan,

Diremehkan oleh impian,

Dan dibuang dari harapan…

Cukup mengiris, melihat ketidakberuntungan sahabat-sahabat jalan ku,

Sedang para calon intelektual bangsa ini, bergelut dengan tumpukan buku dibalik tembok pendidikan.

Dimana kecerdasan diukur oleh angka,

Budi pekerti secara singkat diajarkan dalam 3 jam 1 minggu 1 kali…

Hanya segelintir yang mau turun dan sedikit berempati..

Sisanya, terlalu apatis untuk sekedar melirik ke jalan.

Tembok-tembok lembaga pendidikan benar-benar menjadi batas antara penerus bangsa beruntung dan yang tidak beruntung…

Seolah tak ada pilihan untuk berkata tidak,

Tidak pada ketidakadilan,

Tidak pada kemiskinan,

Tidak pada tembok ini…

Entah bagianmana yang salah?

Aku terpaku,

Di depan lembaran-lembaran kertas putih,

Bertaruh untuk angka-angka yang akan ku dapat kali ini,

Aq terdiam,

Di depan sajak singkat yang kutulis,

Masih bertanya,

Cukupkah sebuah sajak singkat meruntuhkan tembok pembatas ini,

Meski jawabannya jelas : TIDAK!

cerita sebuah pena

Wenny theresia sinaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s