“kisah kasih ayah”


dingin kali malam ini, rupanya Tuhan tidak mengijinkan aq dan adik-adik ku tidur nyaman. Hujan diluar benar-benar membuat kami menggigil, selimut tua yang sudah jelek itu pun menjadi andalan kami untuk sekedar mendapatkan sedikit rasa hangat, cihh…sudah tidak makan, tidak bisa tidur pula.

Ayah masih berdiri di depan gubuk reyot kami yang di bangun di bawah jalan tol dari jakarta menuju bandung, ia masih menghisap sebatang rokok bekas, yang entah dipungut dari mana. sesekali ia membelai rambut kami dan memandang kami satu persatu dengan tatapan sendu miliknya.  aq tau, lelaki tua ini sudah cukup lelah menjaga kami dan menahan rasa bersalahnya krn tak bisa mengembalikan kenyamanan yang kami punya dulu.

Ayah bangkrut, hartanya tak bersisa, ludes membayar hutang perusahaan. Sering aq mnonton kisah sperti ini di sinetron, tak q sangka kali ini aq dan kluarga q yang mengalaminya. Satu persatu orang-orang pergi mninggalkan qmi. Mulai dari ibu yang entah pergi kmana bersama lelaki simpanannya membawa sebagian harta ayah, cih.. dari dlu sudah q duga wanita ini gila. Wanita yang di nikahi ayah sepeninggal ibu kandung qmi, arghh.. najis jika harus mengingatnya. Ditambah lagi semua sahabat-sahabat ayah yang dulunya dekat, perlahan tapi pasti pergi menjauh. yah.. kata ayah: mencari ketulusan zaman sekarang sulit.

Rupa ayah, sudah tak sperti dulu, dagunya sudah di penuhi rambut berwarna putih, Badannya kurus tak terawat, entah sudah berapa hari ia tak membersihkan diri. setiap hari ia menjadi kuli, mengangkat barang-barang bangunan, pulang dari menjadi kuli, ia membantu merawat kebun orang. Apapun ia kerjakan agar aq dan adik-adikku bisa makan. sering kali  kami yang tidak terbiasa ada dalam kondisi serba kekurangan seperti ini mengeluh dan memaki ayah, tapi lelaki tua ini hanya tersenyum kecil memeluk kami dan berjanji mengembalikan kehidupan kami yang dulu.

Dalam dingin malam ini, ayah akhirnya tertidur, lelap krn lelah. Hatiku pilu melihat keadaanya. Sementara seringkali kami mengeluh, ia mengusahakan sgalnya untuk kami. Sementara seringkali kami menangis, ia tersenyum kemudian menenangkan kami dengan janji yang entah kapan bisa ia penuhi. Sementara kami meminta, ia terus menerus memberi. Sementara ia berjuang, menanggung semua seorang diri, kami hanya bisa melihat. Entah apa yang bisa kami berikan? Limpahan kasih sayang nya tak sanggup kami balas. Malam ini, q pegang tangannya, masih hangat, q bagi selimut ini untuknya. Biarlah malam ini ia tertidur dengan selimut tua itu, hanya ini yang bisa aq lakukan sekarang. Kelak, semua peluh, letih dan sedihmu akan q ganti dengan senyum dan bahagia mu. Takkan q biarkan dingin bersamamu.

di sudut sketsa ini, q goreskan janji kecil tuk lukiskan bahagia d jln mu.

menanti  dingin malam berganti hangat mentari.

merubah hitam, putih, abu-abu lukisan ini.

Terimakasih tuk selalu memberi Ayah.

=)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s