a letter for anonymous”


Anonymous,

Entah, kapan aq mulai bicara denganmu, menghayalkan sosok mu.

Anonymous,

Senja kuning terindah diulang thun q yang ke 5, sejak itu aq selalu kembali ke tempat kita bertemu.

Anonymous,

Hanya satu waktu, satu pertemuan, dan anonymous, kau buat q memikirkanmu selama ini.

Aq buat gambaran tentang mu, berubah sama seperti aq dan manusia pada umumnya tumbuh.

Aq buat gambaran tentang mu, menjadi sempurna, sempurna seperti yang aq inginkan dan q perlukan.

Ah… umur ku terlalu muda saat itu untuk merasakan yang orang sebut cinta,

Rasa yang sampai sekarang belum bisa q terjemahkan, rasa padamu.

Setiap malam, q goreskan tinta q, bercerita padamu, seolah kau ada di hadapan q.

 

Ingat kah qw anonymous, saat aq bercerita tentang piala pertama q di tahun kedua di sekolah menengah?

Saat itu q bayangkan, qw ada disana berdiri dan tersenyum bangga.

Ingatkah anonymous, saat aq kehilangan ibu q?

Saat itu q bayangkan qw mengenakan baju kerah kuning favoritmu memeluk q erat, dan mengusap air mata q.

 

Menginjak masa remaja q, masih saja qw berputar di alam khayal q, bermain bersama imajinasi q dan mengambil alih perhatihan q.

Terkadang di senja kuning, aq menyempatkan diri duduk di tempat kita brtemu, berharap bertemu dengan mu, dan bercerita.

 

Sosok sempurna yang tercipta dari imajinasi q, sebagai hasil dari satu waktu,satu pertemuan.

Anonymous…

 

A letter for anonymous. (Mercy, before Blindnesss)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s