memberi banyak hal, termasuk kesempatan


Seminggu sekali aku pulang ke rumah sederhana ku. Rumah berpagar kayu coklat dengan dinding bercat putih dan halaman kecil berbatu. aku kurang memperhatikan lingkungan ku, entah siapa tetangga baruku atau bagaimana kabar tetangga-tetangga selama 3 tahun belakangan ini. Terakhir aku ingat, si kecil di depan rumah sudah bisa naik sepeda, sedangkan aku belum =D.

Bulan ini merupakan bulan puasa, kesempatan libur panjang untuk ku yang jarang sekali bertapa di rumah selama liburan. Biasanya selalu saja ada hal lain yang di kerjakan, entah itu urusan akademik atau organisasi, yah.. begitulah muda-belia-ceria-bersemangat #kutipanorangtua. Seminggu ini, banyak waktu ku pakai didalam kamar, entah menonton drama korea yang akhir-akhir ini ku sukai atau sekedar menghabiskan waktu mendownload lagu baru dan membuka jejaring sosial lewat laptop tua yang sudah menemani ku beberapa tahun kuliah ini.

Hari ini, minggu 28, Agustus 2011, seperti biasa, aku duduk di meja dekat jendela kamar untuk mengerjakan proposal yang sudah lama ku telantarkan. Perhatian ku teralihkan dengan pemandangan di seberang jendela kamar. Seorang nenek tua dengan baju jingga dan sarung duduk termenung sendiri didekat drum pengisian air di depan rumahnya, hm.. atau tepatnya di sebut bedak. Entah sejak kapan beliau duduk di situ, pandangannya kosong.

Sebenarnya hampir setiap aku membuka jendela kamar di pagi hari dan menutupnya di sore hari, aku melihat nenek ini. Rambutnya sudah memutih semua, badannya kecil, kurus, pandangannya sayu, tidak banyak bicara, tidak sering keluar rumah kecuali untuk mengangkat air hujan dari drum di depan rumahnya. Tidak pernah aku temui si kakek disekitar bedak, yang ada hanya cucu perempuan dan seorang ibu yang nampaknya anak dari nenek ini. Keadaan nenek sebenarnya tidak sememprihatinkan si mbah yang dulu juga tinggal di bedak itu, setidaknya nenek masih punya keluarga yang tinggal bersama, sedang si mbah dulu tinggal sendiri #wonderingdimanasimabahsekarang?.

Yang terlintas dalam pikiranku saat melihat nenek duduk sendiri adalah “rasa kesepian kah yang sedang ada dalam hati nenek sekarang?” ah… kita sama-sama sendiri nek, bedanya usia ku jauh lebih muda, sedang nenek sudah sangat tua. Sendiri duduk di dekat drum air dengan pandangan kosong, tanpa teman, entah apa yang kau pikirkan sekarang, kenangan akan masa muda mu kah, suami mu kah, atau bagaimana kau melewati hari esok?. Sedang aku, duduk sendiri, mengusir sepi dengan mengerjakan proposal demi masa depan ku. Haruskah aku mengajak mu berbicara? tapi tidak aku rasa, kau akan bosan, atau bahkan aku yang akan bosan. Jadi ku putuskan memandangi mu dari sini, dari jendela kamar ku.

Sekarang aku kembali berpikir, tentang masa tua ku, akankan aku duduk sendiri, terkesan sepi, pandangan kosong, rambut putih dan di pandangi oleh seorang muda yang sibuk memikirkan masa depannya. Haruskah aku hindari perasaan sepi suatu saat nanti, atau menikmati sebagai bagian dari hidup masa tua ku. ah.. tidak, aku punya rencana dengan masa tua ku, tidak di tempat kecil, sendiri tanpa ada sesuatu yang bisa aku kerjakan. Tapi.. kata orang waktu merenggut segalanya, masa muda muda salah satunya, yang ada hanyalah puing-puing kenangan yang bisa terus kau ingat dan jadi bagian dari cara mu megisi waktu, itupun jika kau tidak pikun.

Haruskah, aku memastikan kehidupan masa tua ku sejak sekarang?, Bodoh ku kira memikirkan hal seperti ini. mengapa tidak ku pasrahkan saja. Aku kembali memandangi nenek tadi, kali ini beliau berdiri, mengangkat seember air dari drum dan membawanya ke dalam bedak. Aku menunggu, lama tapi beliau tidak keluar. Jangan-jangan dari tadi selama duduk beliau berusaha mengingat apa yang harus dilakukan, bukannya mengingat masa lalu, atau merenung menyerah pada sepi. hmm.. Entah lah.. sepertinya siang ini aku terlalu aneh, pikiran ku terlalu melayang jauh, sama seperti keyakinan ku akan banyak hal yang terbang entah kemana selama beberapa bulan terakhir.

Seharusnya, tidak peduli apa yang telah terjadi dulu dan apa yang akan terjadi pada kita di masa tua nanti, yang terpenting adalah masa sekarang, melakukan yang terbaik untuk tujuan baik lah yang terpenting.  Waktu menghapus banyak hal, termasuk kenangan, merenggut banyak hal termasuk masa muda, dan memberi banyak hal termasuk kesempatan. Kesempatan menjadi lebih baik =D

thx nenek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s