Dia


Dia, wanita kecil yang tidak memiliki apapun kecuali genggaman tangan orang-orang terdekatnya. Hari ini dia berjalan sendiri, meski di sekelilingnya ada sahabat-sahabat yang menemani. Biar ku jadikan dia bahan kisah sederhana ku.

september 1990…

Bersama sambutan senyum hangat keluarga, dia berteriak menangis pertama kali di dunia, dalam peluk ibu dia tertidur menunggu kedewasan hadir.

1997…

Dia duduk di pangkuan seorang ayah yang menangis begitu kencang karena ibu yang tidak pernah akan bangun dari tidur lelapnya.

Hari itu begitu terburu-buru, dia ingat saat ibunya tidak meneguk kopi hitam seperti biasa. Hari terakhir menikmati peluk, dan kebiasaan ibu memberi tanda salib menggunakan jempol didahinya.

Hari terakhir dia merasakan indahnya memiliki seorang ibu yang mengingat rambut pirangnya menjadi dua bagian kemudian menyiapkan segelas susu tuk diminum.

Dia ingat betul, hari itu dia di jemput dari sekolah, sebelum dia sempat mengerjakan soal pertama ujiaanya, saat seorang guru memeluknya dan mengantarnya keruang kelas,tanpa tau mengapa. Hari dimana, dia melihat ibunya terbaring di atas ranjang rumah sakit tanpa berkata sepatah kata pun. Hingga seorang kakak,memapahnya keluar ruangan padahal dia tidak merasa lemas ataupun sakit.

dia ingat betul hari itu, hari dimana dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, apa yang harus dia lakukan meski dia tau bahwa dia takkan pernah bisa bermain dengan ibu.

2002…

Dia tumbuh menjadi anak yang sediki pemalu diantara keluarga, tetapi sangat berani diantara teman-teman. Tahun itu adalah tahun pertamanya mengalami apa yang seharusnya wanita alami di tiap bulan dan di tidak mengerti. tanpa berani bertanya kepada siapapun, dia hanya diam,membiarkan semua berjalan seperti biasa,hingga seorang bibi membantunya mengerti apa yg sedang dia hadapi.

Suatu malam, akhirnya dia menangis, tangisnya tidak kencang, hanya air mata dan isak yang tertahan dibalik selimut. Dia takut membangunkan kakak yang sedang tidur di sebelahnya. Sikecil yang baru beranjak dewasa sadar, dia kehilangan sosok yang sangat berarti baginya 5 tahun yang lalu, tangisnya memang terlambat.

2006…

Suatu hari dia mengambil fotokopian surat yang menyatakan ibunya telah tiada, dia simpan di satu buku. Dia melakukan ini setelah berhari-hari menangis karena harus melangkahkan kaki di bidang yang sama dengan ibunya, tapi seperti biasa isak tangisnya selalu tertahan.

suatu pagi di tahun ini,ayahnya memasakan sarapan dan mengantarnya menuju tempat ujian masuk suatu sekolah. Ayah yang sangat dia cintai memintanya berusaha.

Dia berhasil memenuhi keinginan ayahnya. Lagi…

2008…

ayah…

Tahun kelulusan, seperti biasa sekolah Dia mengadakan acara besar tuk menghantarkan lulusan-lulusan mereka. Ayah sibuk memperhatikan anak yang tadi pagi diantar ke salon, agar tidak kalah dari teman-temannya. Dia berdiri di depan sana, serupa dengan ibunya yang dulu juga ada di sana, ayah tersenyum bangga.

Tahun ini juga, dia berhasil membujuk ayahnya untuk mengijinkannya kuliah di kota sebelah. Dia harus meninggalkan ayahnya seorang diri. Dian ingat betul hari pertamanya dikota orang, dia menangis, bukan karena takut sendiri, tapi karena membayangkan ayahnya berada dirumah sendiri, tanpa dia sebagai teman bicara.

teman…

banyak cinta dari sahabat yang dia dapatkan, rangkulan hangat, genggaman erat dari orang-orang tahun ini membuat dia banyak berterimakasih. Dalam setiap langkahnya di tahun ini, di bertemu orang-orang mengagumkan yang membuatnya berlari mengerjar mimpi.

2012…

sahabat…

Tahun kelulusan sarjana, diruangan kamar, dia mengingat kembali 4 tahun perjalanannya diuniversitas kuning ini. bertemu sahabat-sahabat luar biasa yang selalu menemaninya dalam susah dan senang, bertemu dua sosok kakak yang siap dengan segala nasehat, hingga kota ini tidak membuatnya kekurangan kasih sayang meski jauh dari orang tua.

Merekalah keluarga dia disini, dan meski tak bisa membalas smua kebaikan, selalu  terselip nama mereka dalam doa dia.

ayah…

Dia berdiri dengan toga hitam, kembali ayah tersenyum bangga. Ayah yang bekerja begitu keras tuk membiayai kedua orang anaknya sendirian. Dia ingat betul saat ayahnya sempat sakit, meski hanya demam dan pusing, dia takut, dia tidak mau kehilangan satu-satunya tempat berpegang,jika merasa goyah. satu-satunya orang yang akan menenangkannya jika mimpi buruk menghampiri di tidur lelap dia.

2012 lagi…

sekali lagi dia harus pergi, kali ini kota seberang, mimpi besar yang harus diwujudkannya. Diawali kegagalan kecil di langkah pertama, hingga berhasil ada di kampus yang menjadi khayalannya sejak lama. terpisah dari sahabat  dan keluarga membuatnya mengerti bahwa kaki kita sendiri lah yang akan membuat kita berlari. Meski sering terjatuh, dia bangkit lagi,kali ini dengan semangat yang lebih tinggi.

saat orang-orang yang dulu mjauh,kini kembali mendekat. saat orang-orang yang dulu dekat,kini menjauh, dia hanya tersenyum. Dia tau betul siapa orang-orang yang dia sayangi.

2013..

perjalanan hidup dia masih panjang, masih banyak mimpi yang belum dia mulai rencanakan, mimpi yang dia sedang usahakan, dan mimpi yang telah dia dapatkan.

semua masih berujung dititik yang sama.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s