Surat tuk kamu di negeri seberang.


Hari ini aku terdiam di kamar ku yang bercat kuning kecoklatan, duduk manis di depan selembar kertas dan sebuah pena. Sudah lama aku ingin menuliskan surat kepadamu, aku mencari-cari dalam pikiran ku yang semeraut, kisah apa yang ingin aku sampaikan kepada mu yang jauh di sana.

Sudah lima tahun sejak aku berhenti menuliskan surat kepadamu, berhenti menceritakan kisah hidupku yang biasa saja. Aku tahu saat kau membaca surat ini, kau pasti berpikir betapa egoisnya aku, mencarimu hanya saat memerlukanmu. Maaf, tapi lima tahun terakhir, hidupku disibukan dengan kebohongan yang kulakukan terhadap diriku sendiri.

Oh ya, beberapa tahun terakhir aku bertemu dengan orang-orang yang menemani ku kemanapun aku mau. Aku menyukai mereka, dan aku pikir mereka juga menyukaiku. Kami melakukan banyak hal bersama. Tahun lalu kami pergi ke hutan untuk sekedar mengambil foto kenangan, dan seringkali kami pergi bersama tuk makan malam di cafe terdekat sambil membicarakan masa lalu, tak lupa dengan secangkir kopi pahit favorit kami.

Hidupku terasa sangat berwarna dengan kehadiran mereka, i love them.

Tidak ada yang berubah sampai hari saat aku menuliskan surat ini. Hanya saja, entah dari mana pikiran ini melintas, aku merasa perasaan bahagia ini hanya milik ku sendiri. Saat aku mencoba menginggat moment dimana kami berkumpul, yang bisa aku ingat hanya betap kerasnya tawa ku, betapa kerasnya tangan ku menarik mereka untuk berlari bersamaku, atau betapa seringnya aku meminjam saputangan mereka saat menangis. Aku lupa tuk melihat wajah mereka, apakah mereka tersenyum atau tidak. 

Lima tahun ini, aku hidup dengan mencoba percaya.

Aku ragu kawan, keraguan ini berasal dari mu, dari kenangan dengan mu.  Kenangan saat kita tertawa bersama, berlari bersama, dan saat kau berikan tanganmu untuk menghapus air mataku. Ya, kenangan mu sahabatku. Aku buka lagi lembaran-lembaran foto berdebu milik kita, saat mimpi kita tuk menaklukan dunia kita teriakan kencang sambil berbaring di halaman sekolah.

hey kamu yang ada disana,

Saat kau baca surat ini, tersenyumlah untuk ku, yakinkan aku dari negerimu untuk selalu mencoba percaya. Percaya bahwa mereka yang ada bersama ku sekarang bahagia bersamaku, tersenyum bersamaku, seperti halnya dulu kita. Percaya bahwa, tidak ada kebohongan yang aku ciptakan tuk bahagia. Meski aku tau,aku tidak akan pernah mendapat balasan surat darimu, tapi aku yakin kau akan selalu baik-baik saja, sebaik senyum terakhir yang kau berikan tuk ku. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s