Self-labeller and Writing


Pagi ini aku bangun, dengan setumpuk permasalahan kehidupan yang biasa di pikirkan oleh mahasiswa-mahasiswa baru. Disatu sisi, aku berpikir untuk menunggu sampai gelar itu akan ku sandang akhir bulan nanti, tetapi di sisi lain, pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan selalu menunggu untuk ku jawab. Pertanyaan ini bukan berasal dari sekitar ku, tapi dari diri ku sendiri, dari kepala dan hati ini yang gelisah dan ingin segera mendapatkan jawaban pasti. Seperti halnya saat perut mu terasa lapar tetapi otak mu terus menahan diri karena keinginan diet yang begitu besar, begitu lah aku memberi gambaran tentang bagaimana pikiran ku menolak tuk segera di gunakan sebagai seorang pekerja sedangkan hati ku memaksa tuk segera  memastikan jawaban pertanyaan ini. 

Beranjak ku dari tempat tidur mungil, di dalam kamar yg baru aku diami 3 minggu ini. insiden kecil yang mengusik mandi, karena ketukan halus dari tetangga kamar tidak ikut mengusik suasana hati yang cukup baik karena akhirnya mendapatkan sms balasan dari dosen yang akan memeriksa kata perpisahan tuk acara pelantikan nanti. Hah? aku? membacakan kata perpisahan di kampus yang baru satu tahun aku masuki? mengapa bukan mereka yang memiliki paras rupawan atau nilai mendekati sempurna, atau populer di kampus ini? Pertanyaan ini kembali muncul dari pikiran ku, setiap kali bertemu mereka yg terasa lebih baik dari segi apapun dibanding aku. Oke, aku memang self-labeller. Setiap kali merasa kurang mampu menghadapi tugas, pikiran ku dengan segera memberikan label-label baru dan mengirimkan sinyalnya ke seluruh bagian tubuhku, hingga akhirnya otak malas berpikir, tangan malas menulis, mata malas membaca, kaki malas berjalan, beruntung bagiku, sinyal lapar tidak pernah terlambat dan selalu mendominasi, hingga aku tidak pernah kehilangan keinginan untuk tetap memenuhi kebutuhan pangan.

label 1

Suatu hari yang cukup cerah, dimana aku sudah mengawali pagiku dengan mandi, makan dan memakai sedikit sentuhan bedak, tidak lupa pelembab bibir berwarna natural kemudian berangkat kekampus dengan langkah kaki dan senyum ceria, aku bertemu seorang perempuan, salah satu bagian dari angkatan kami, tetapi cukup terlihat berbeda dengan penampilan barunya (rambut pendek yg di cat sedikit pirang id bagian pinggir, blazer biru bercorak bunga, celana pensil dan sepatu yg mampu membuat lubang di tanah karena ketajamannya), dia berjalan dengan percaya diri, memberi senyum kepada semua orang, sambil mengucapkan sapaan yg entah menjadi kebiasaannya atau memang sebenarnya dia lupa nama orang-orang yang ia temui : “hai, Say..”. bertemu dengannya mengingatkan ku tentang draft perpisahan yang aku pegang. pikiran ku kembali bergumanan : ahh.. harusnya di saja yang membacakan ini, karena dia Jauh lebih cantik, Jauh lebih percaya diri; sedangkan aku Biasa saja (nggak mau juga bilang diri sendiri jelek =p), dan kurang percaya diri.

label pertama  : Biasa saja dan kurang percaya diri.

 

label 2

Melanjutkan perjalanan ku di kampus, aku bertemu dengan seorang pria berbadan tinggi besar di depan ruangan administrasi. Aku yang tadinya berdiri di depan loket, menunggu jawaban dari bapak yg ada di seberang sana, mendadak disuruh memanggil Pria ini ketimbang di beri jawaban pasti tentang pertanyaan ku. Pria ini yang juga bagian dari angkatan ku, segera berbicara dengan nada sopan tetapi tetap berwibawa dengan segala urusanyang hanya dia  dan bapak di seberang loket yang tau, semacam menjadi orang kepercayaan dosen-dosen disini. Kembali, pikiran ku bergumam, kali ini cukup membuatku terdiam beberapa saat: ahh, apa jadinya kalau aku tidak bisa berbicara seperti dia, berwibawa dan dipercaya. Sedangkan aku : Bukan siapa-siapa dan tidak berwibawa.

label kedua: Bukan siapa-siapa  dan tidak berwibawa

 

Langkah kaki ku terasa semakin berat menunggu jam Dua siang, saat dimana aku harus bertemu dengan dosen untuk konsultasi kata perpisahan yang kubuat. Pikiran ku terus menerus membisikan kata-kata pesimis yang bisa membuat ku kehilangan kepercayaan diri. Ku putuskan untuk mencari sedikit ketenangan di tempat favorit, Perpustakaan kampus, yang mampu memberikan ku kenyamanan. Jangan pikir aku merasa nyaman karena keberadaan berak-rak buku atau pemandangan sekelompok mahasiswa yang belajar bersama, tentu tidak. Pikiran ku mudah sekali merasa nyaman, semudah perut ku merasa kenyang ketika diisi dengan nasi, lauk dan sayur, begitu juga dengan pikiran ku, cukup merasa nyaman dengan keheningan, kesendirian, kemudian menulis, lalu dengan mudahnya, hati ku akan mencopot semua label-label negatif yang aku cipatakan sekejap  dan mengirim sinyal kebahagiaan menuju pikiranku, mendominasinya tubuhku, sehingga otak mulai berpikir, tangan terus menulis, mata melanjutkan membaca, dan kaki melangkah riang kembali.

Image

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s