Dia

Aside

Dia, wanita kecil yang tidak memiliki apapun kecuali genggaman tangan orang-orang terdekatnya. Hari ini dia berjalan sendiri, meski di sekelilingnya ada sahabat-sahabat yang menemani. Biar ku jadikan dia bahan kisah sederhana ku.

september 1990…

Bersama sambutan senyum hangat keluarga, dia berteriak menangis pertama kali di dunia, dalam peluk ibu dia tertidur menunggu kedewasan hadir.

1997…

Dia duduk di pangkuan seorang ayah yang menangis begitu kencang karena ibu yang tidak pernah akan bangun dari tidur lelapnya.

Hari itu begitu terburu-buru, dia ingat saat ibunya tidak meneguk kopi hitam seperti biasa. Hari terakhir menikmati peluk, dan kebiasaan ibu memberi tanda salib menggunakan jempol didahinya.

Hari terakhir dia merasakan indahnya memiliki seorang ibu yang mengingat rambut pirangnya menjadi dua bagian kemudian menyiapkan segelas susu tuk diminum.

Dia ingat betul, hari itu dia di jemput dari sekolah, sebelum dia sempat mengerjakan soal pertama ujiaanya, saat seorang guru memeluknya dan mengantarnya keruang kelas,tanpa tau mengapa. Hari dimana, dia melihat ibunya terbaring di atas ranjang rumah sakit tanpa berkata sepatah kata pun. Hingga seorang kakak,memapahnya keluar ruangan padahal dia tidak merasa lemas ataupun sakit.

dia ingat betul hari itu, hari dimana dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, apa yang harus dia lakukan meski dia tau bahwa dia takkan pernah bisa bermain dengan ibu.

2002…

Dia tumbuh menjadi anak yang sediki pemalu diantara keluarga, tetapi sangat berani diantara teman-teman. Tahun itu adalah tahun pertamanya mengalami apa yang seharusnya wanita alami di tiap bulan dan di tidak mengerti. tanpa berani bertanya kepada siapapun, dia hanya diam,membiarkan semua berjalan seperti biasa,hingga seorang bibi membantunya mengerti apa yg sedang dia hadapi.

Suatu malam, akhirnya dia menangis, tangisnya tidak kencang, hanya air mata dan isak yang tertahan dibalik selimut. Dia takut membangunkan kakak yang sedang tidur di sebelahnya. Sikecil yang baru beranjak dewasa sadar, dia kehilangan sosok yang sangat berarti baginya 5 tahun yang lalu, tangisnya memang terlambat.

2006…

Suatu hari dia mengambil fotokopian surat yang menyatakan ibunya telah tiada, dia simpan di satu buku. Dia melakukan ini setelah berhari-hari menangis karena harus melangkahkan kaki di bidang yang sama dengan ibunya, tapi seperti biasa isak tangisnya selalu tertahan.

suatu pagi di tahun ini,ayahnya memasakan sarapan dan mengantarnya menuju tempat ujian masuk suatu sekolah. Ayah yang sangat dia cintai memintanya berusaha.

Dia berhasil memenuhi keinginan ayahnya. Lagi…

2008…

ayah…

Tahun kelulusan, seperti biasa sekolah Dia mengadakan acara besar tuk menghantarkan lulusan-lulusan mereka. Ayah sibuk memperhatikan anak yang tadi pagi diantar ke salon, agar tidak kalah dari teman-temannya. Dia berdiri di depan sana, serupa dengan ibunya yang dulu juga ada di sana, ayah tersenyum bangga.

Tahun ini juga, dia berhasil membujuk ayahnya untuk mengijinkannya kuliah di kota sebelah. Dia harus meninggalkan ayahnya seorang diri. Dian ingat betul hari pertamanya dikota orang, dia menangis, bukan karena takut sendiri, tapi karena membayangkan ayahnya berada dirumah sendiri, tanpa dia sebagai teman bicara.

teman…

banyak cinta dari sahabat yang dia dapatkan, rangkulan hangat, genggaman erat dari orang-orang tahun ini membuat dia banyak berterimakasih. Dalam setiap langkahnya di tahun ini, di bertemu orang-orang mengagumkan yang membuatnya berlari mengerjar mimpi.

2012…

sahabat…

Tahun kelulusan sarjana, diruangan kamar, dia mengingat kembali 4 tahun perjalanannya diuniversitas kuning ini. bertemu sahabat-sahabat luar biasa yang selalu menemaninya dalam susah dan senang, bertemu dua sosok kakak yang siap dengan segala nasehat, hingga kota ini tidak membuatnya kekurangan kasih sayang meski jauh dari orang tua.

Merekalah keluarga dia disini, dan meski tak bisa membalas smua kebaikan, selalu  terselip nama mereka dalam doa dia.

ayah…

Dia berdiri dengan toga hitam, kembali ayah tersenyum bangga. Ayah yang bekerja begitu keras tuk membiayai kedua orang anaknya sendirian. Dia ingat betul saat ayahnya sempat sakit, meski hanya demam dan pusing, dia takut, dia tidak mau kehilangan satu-satunya tempat berpegang,jika merasa goyah. satu-satunya orang yang akan menenangkannya jika mimpi buruk menghampiri di tidur lelap dia.

2012 lagi…

sekali lagi dia harus pergi, kali ini kota seberang, mimpi besar yang harus diwujudkannya. Diawali kegagalan kecil di langkah pertama, hingga berhasil ada di kampus yang menjadi khayalannya sejak lama. terpisah dari sahabat  dan keluarga membuatnya mengerti bahwa kaki kita sendiri lah yang akan membuat kita berlari. Meski sering terjatuh, dia bangkit lagi,kali ini dengan semangat yang lebih tinggi.

saat orang-orang yang dulu mjauh,kini kembali mendekat. saat orang-orang yang dulu dekat,kini menjauh, dia hanya tersenyum. Dia tau betul siapa orang-orang yang dia sayangi.

2013..

perjalanan hidup dia masih panjang, masih banyak mimpi yang belum dia mulai rencanakan, mimpi yang dia sedang usahakan, dan mimpi yang telah dia dapatkan.

semua masih berujung dititik yang sama.

 

memberi banyak hal, termasuk kesempatan

Seminggu sekali aku pulang ke rumah sederhana ku. Rumah berpagar kayu coklat dengan dinding bercat putih dan halaman kecil berbatu. aku kurang memperhatikan lingkungan ku, entah siapa tetangga baruku atau bagaimana kabar tetangga-tetangga selama 3 tahun belakangan ini. Terakhir aku ingat, si kecil di depan rumah sudah bisa naik sepeda, sedangkan aku belum =D.

Bulan ini merupakan bulan puasa, kesempatan libur panjang untuk ku yang jarang sekali bertapa di rumah selama liburan. Biasanya selalu saja ada hal lain yang di kerjakan, entah itu urusan akademik atau organisasi, yah.. begitulah muda-belia-ceria-bersemangat #kutipanorangtua. Seminggu ini, banyak waktu ku pakai didalam kamar, entah menonton drama korea yang akhir-akhir ini ku sukai atau sekedar menghabiskan waktu mendownload lagu baru dan membuka jejaring sosial lewat laptop tua yang sudah menemani ku beberapa tahun kuliah ini.

Hari ini, minggu 28, Agustus 2011, seperti biasa, aku duduk di meja dekat jendela kamar untuk mengerjakan proposal yang sudah lama ku telantarkan. Perhatian ku teralihkan dengan pemandangan di seberang jendela kamar. Seorang nenek tua dengan baju jingga dan sarung duduk termenung sendiri didekat drum pengisian air di depan rumahnya, hm.. atau tepatnya di sebut bedak. Entah sejak kapan beliau duduk di situ, pandangannya kosong.

Sebenarnya hampir setiap aku membuka jendela kamar di pagi hari dan menutupnya di sore hari, aku melihat nenek ini. Rambutnya sudah memutih semua, badannya kecil, kurus, pandangannya sayu, tidak banyak bicara, tidak sering keluar rumah kecuali untuk mengangkat air hujan dari drum di depan rumahnya. Tidak pernah aku temui si kakek disekitar bedak, yang ada hanya cucu perempuan dan seorang ibu yang nampaknya anak dari nenek ini. Keadaan nenek sebenarnya tidak sememprihatinkan si mbah yang dulu juga tinggal di bedak itu, setidaknya nenek masih punya keluarga yang tinggal bersama, sedang si mbah dulu tinggal sendiri #wonderingdimanasimabahsekarang?.

Yang terlintas dalam pikiranku saat melihat nenek duduk sendiri adalah “rasa kesepian kah yang sedang ada dalam hati nenek sekarang?” ah… kita sama-sama sendiri nek, bedanya usia ku jauh lebih muda, sedang nenek sudah sangat tua. Sendiri duduk di dekat drum air dengan pandangan kosong, tanpa teman, entah apa yang kau pikirkan sekarang, kenangan akan masa muda mu kah, suami mu kah, atau bagaimana kau melewati hari esok?. Sedang aku, duduk sendiri, mengusir sepi dengan mengerjakan proposal demi masa depan ku. Haruskah aku mengajak mu berbicara? tapi tidak aku rasa, kau akan bosan, atau bahkan aku yang akan bosan. Jadi ku putuskan memandangi mu dari sini, dari jendela kamar ku.

Sekarang aku kembali berpikir, tentang masa tua ku, akankan aku duduk sendiri, terkesan sepi, pandangan kosong, rambut putih dan di pandangi oleh seorang muda yang sibuk memikirkan masa depannya. Haruskah aku hindari perasaan sepi suatu saat nanti, atau menikmati sebagai bagian dari hidup masa tua ku. ah.. tidak, aku punya rencana dengan masa tua ku, tidak di tempat kecil, sendiri tanpa ada sesuatu yang bisa aku kerjakan. Tapi.. kata orang waktu merenggut segalanya, masa muda muda salah satunya, yang ada hanyalah puing-puing kenangan yang bisa terus kau ingat dan jadi bagian dari cara mu megisi waktu, itupun jika kau tidak pikun.

Haruskah, aku memastikan kehidupan masa tua ku sejak sekarang?, Bodoh ku kira memikirkan hal seperti ini. mengapa tidak ku pasrahkan saja. Aku kembali memandangi nenek tadi, kali ini beliau berdiri, mengangkat seember air dari drum dan membawanya ke dalam bedak. Aku menunggu, lama tapi beliau tidak keluar. Jangan-jangan dari tadi selama duduk beliau berusaha mengingat apa yang harus dilakukan, bukannya mengingat masa lalu, atau merenung menyerah pada sepi. hmm.. Entah lah.. sepertinya siang ini aku terlalu aneh, pikiran ku terlalu melayang jauh, sama seperti keyakinan ku akan banyak hal yang terbang entah kemana selama beberapa bulan terakhir.

Seharusnya, tidak peduli apa yang telah terjadi dulu dan apa yang akan terjadi pada kita di masa tua nanti, yang terpenting adalah masa sekarang, melakukan yang terbaik untuk tujuan baik lah yang terpenting.  Waktu menghapus banyak hal, termasuk kenangan, merenggut banyak hal termasuk masa muda, dan memberi banyak hal termasuk kesempatan. Kesempatan menjadi lebih baik =D

thx nenek.

harta, tahta dan Cinta

Hanya ada tiga gelas di atas meja, bertuliskan harta, tahta, dan cinta. Mereka meminta ku memilih.

aku bergerak mencium aroma tiap gelas, hemm…, begitu mendekat ke gelas pertama aromanya begitu menggoda, ada kesenangan, kemewahan dan kenyamanan yang ku cium dari tiap tarikan nafas ku di dekatnya. Otak ku berputar, segera ku raih gelas pertama. Tapi… semakin dekat mulut ku ke tepi gelas, semakin terasa menusuk. Bau tajam yang Luar biasa, hampir muntah aku karenanya.

Ini bau keserakahan.

Kembali aku letakan gelas tadi dan beralih ke gelas selanjutnya. Keindahan luar biasa, dari tiap ukirannya. Belum lagi, hidung ku merasakan bau  kekuasaan yang semerbak, tanpa pikir panjang, tangan ku meraih gelas berbentuk piala yang terlihat elegan dan mewah ini. Tapi, baru saja ku sentuh gelas tadi, permukaan telapak tangan ku merasakan panas yang luar biasa.

ini panasnya kecurangan.

Tinggal satu gelas lagi, Entah mengapa aku menolak untuk mendekat. Jera aku. Aku membalikan badan, mengambil posisi untuk pergi.  aku berjalan menuju pintu keluar, tidak ada satupun yang menahan ku, ada apa ini, seharusnya mereka menahan ku.  Aku kembali mengarahkan pandangan ku ke gelas terakhir, terlihat sederhana. Aku mendekat, mengearahkan hidung ku tuk menrasakan aromanya. Semakin lama, aku merasakan aroma segar, membuatku penasaran. Dengan perahan, aku mengangkat gelas tadi, mendekatkan bagian tepinya ke mulutku,manis dan  sedikit hangat. Penuh keraguan, akhirnya ku biarkan lidah ku mencicipinya.

aku terdiam..

Mataku terpejam, aku dapat merasakan

kehangatan…

Kelembutan…

ketulusan…

kasih sayang…

dan,

Cinta…

ku Buka mata, dan mereka hilang, dimana mereka? orang-orang yang meminta ku memilih tiga gelas tadi. Bulu kuduk ku berdiri. Aku coba hilangkan semua perasaan aneh itu. Tarikan Napas panjang ku pilih untuk kembali tenang, kemudian ku alihkan perhatian pada sekeliling ku. Disana ada keluarga, Sahabat, dan orang-orang yang selalu ada untukku.

Aku berlari kearah mereka, melemparkan senyum terbaik dan memeluk mereka erat.

terimakasih Cinta.

Theresia’project

Adel-Delia “2sisi”

dan begitulah manusia, takkan pernah puas dengan apa yang mereka miliki, bahkan sahabat  pun tidak.

Adel

delia, begitu orang tuanya memberi nama sahabat q ini. Hidupnya yang penuh keinginan dan ambisi, terkadang menjadikannya posesif dengan semua yang ada disekitarnya, menurutnya semua orang harus mengikuti caranya memandang kehidupan dan caranya bersikap. Hal inilah yang menjadikan hubungan q dan dia memburuk.

Adel nama q, entah apa yang q rasakan sekarang, marah, kesal dan benci tapi ada sedikit rasa bersalah disana. Setiap kali harus melihat Delia menjauh dan memberikan tatapan yang tidak seperti biasanya pada q, aq berpikir bagian mana dari sikap dan kata-kata q yang membuatnya begini. Terakhir kami baik-baik saja, makan siang bersama, tertawa lepas di salah satu depot kesayangan kami, tetapi sudah 2 hari ini sikapnya berubah menjadi sangat menyebalkan. Awalnya aq memaklumi, mungkin karena kesibukannya yang luar biasa itu menjadikan moodnya berubah drastis seperti sekarang. Tapi ada yang berbeda, sangat berbeda dan aq bosan menghadapi sikapnya. Hari ini sikapnya tidak berubah menjadi lebih baik, menyebalkan.. memangnya hanya dia orang yang bisa aq ajak bicara!

aq bosan dengan sikapnya yang sok tau, sok mengerti, sok bisa dan sok sibuk. Ajakan q tidak pernah di terima, sedikit saja ada masalah, dia selalu ingin di mengerti, tapi ketika aq yang punya masalah dia membuat q merasa terpojok dengan rasa bersalah. Hari ini aq putuskan untuk menjauh, entah untuk sejenak atau…. =(

 

delia

adel, begitu aq suka memanggilnya, sahabatq yang entah pikirannya sedang kemana. Entah hidup seperti apa yang selama ini dia, yang q tau kami bersahabt. Aq mengerti tidak akan pernah punya hak untuk merubah siapapun dan tak pernah terlintas untuk merubah siapun, termasuk delia. 2 hari terakhir, aq memang menjauh, ini karena  aq tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa di antara kami dan ini karena aq tidak bisa berhenti mencampuradukan masalah. Apalagi saat sudah berkali-kali aq merasa tidak dimengerti . Dia sahabat terdekat q, tapi tak satukalipun dia mengerti dengan kesibukan yang aq miliki, aq punya harapan besar padanya untuk menggantikan q sejenak di kelas tapi bodohnya aq, aq salah berharap besar =(. Diam itu jawabanq untuk semua, entah mungkin terlalu lama aq berdiam diri sehingga adel juga menjauh.

Ada hal-hal yang tidak bisa kita anggap sepele, bahkan ketika hal itu terlihat sederhana. Persahabatan itu jauh lebih penting dari sekedar nilai, tugas dan laporan. Tapi sahabat yang baik, takkan membiarkan sahabatnya berada menyia-nyiakan banyak hal, meski keputusan memilih ada di tangan pribadi kita masing-masing. =)

Adel, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.. yang pasti mungkin aq akan tetap begini. maaf.

“kisah kasih ayah”

dingin kali malam ini, rupanya Tuhan tidak mengijinkan aq dan adik-adik ku tidur nyaman. Hujan diluar benar-benar membuat kami menggigil, selimut tua yang sudah jelek itu pun menjadi andalan kami untuk sekedar mendapatkan sedikit rasa hangat, cihh…sudah tidak makan, tidak bisa tidur pula.

Ayah masih berdiri di depan gubuk reyot kami yang di bangun di bawah jalan tol dari jakarta menuju bandung, ia masih menghisap sebatang rokok bekas, yang entah dipungut dari mana. sesekali ia membelai rambut kami dan memandang kami satu persatu dengan tatapan sendu miliknya.  aq tau, lelaki tua ini sudah cukup lelah menjaga kami dan menahan rasa bersalahnya krn tak bisa mengembalikan kenyamanan yang kami punya dulu.

Ayah bangkrut, hartanya tak bersisa, ludes membayar hutang perusahaan. Sering aq mnonton kisah sperti ini di sinetron, tak q sangka kali ini aq dan kluarga q yang mengalaminya. Satu persatu orang-orang pergi mninggalkan qmi. Mulai dari ibu yang entah pergi kmana bersama lelaki simpanannya membawa sebagian harta ayah, cih.. dari dlu sudah q duga wanita ini gila. Wanita yang di nikahi ayah sepeninggal ibu kandung qmi, arghh.. najis jika harus mengingatnya. Ditambah lagi semua sahabat-sahabat ayah yang dulunya dekat, perlahan tapi pasti pergi menjauh. yah.. kata ayah: mencari ketulusan zaman sekarang sulit.

Rupa ayah, sudah tak sperti dulu, dagunya sudah di penuhi rambut berwarna putih, Badannya kurus tak terawat, entah sudah berapa hari ia tak membersihkan diri. setiap hari ia menjadi kuli, mengangkat barang-barang bangunan, pulang dari menjadi kuli, ia membantu merawat kebun orang. Apapun ia kerjakan agar aq dan adik-adikku bisa makan. sering kali  kami yang tidak terbiasa ada dalam kondisi serba kekurangan seperti ini mengeluh dan memaki ayah, tapi lelaki tua ini hanya tersenyum kecil memeluk kami dan berjanji mengembalikan kehidupan kami yang dulu.

Dalam dingin malam ini, ayah akhirnya tertidur, lelap krn lelah. Hatiku pilu melihat keadaanya. Sementara seringkali kami mengeluh, ia mengusahakan sgalnya untuk kami. Sementara seringkali kami menangis, ia tersenyum kemudian menenangkan kami dengan janji yang entah kapan bisa ia penuhi. Sementara kami meminta, ia terus menerus memberi. Sementara ia berjuang, menanggung semua seorang diri, kami hanya bisa melihat. Entah apa yang bisa kami berikan? Limpahan kasih sayang nya tak sanggup kami balas. Malam ini, q pegang tangannya, masih hangat, q bagi selimut ini untuknya. Biarlah malam ini ia tertidur dengan selimut tua itu, hanya ini yang bisa aq lakukan sekarang. Kelak, semua peluh, letih dan sedihmu akan q ganti dengan senyum dan bahagia mu. Takkan q biarkan dingin bersamamu.

di sudut sketsa ini, q goreskan janji kecil tuk lukiskan bahagia d jln mu.

menanti  dingin malam berganti hangat mentari.

merubah hitam, putih, abu-abu lukisan ini.

Terimakasih tuk selalu memberi Ayah.

=)

mercy 2

selang pergantian detik,, khayal q semakin dalam. Larut dalam kenangan dan harapan yang berserakan di pikiran ku. Tentang Adelard, satu-satunya pria yang membuatku merasa bisa melihat indah dunia melalui getar suaranya, aroma tubuhnya dan suasana yang ia buat setiap kali bersama diriq. Sudah hampir 3 bulan tiada kabar darinya, gundah sudah jadi bagian dari detik.

Prancis dan Adelard…  Aq tau gadis buta sperti qtakkan mungkin membuatnya bertahan di kota kecil ini. Kota yang takkan bisa membuat mimpinya terwujud, seperti aq, yang takkan bisa membantunya mewujudkan mimpi. ahh.. kenangan akan sentuhan hangat tangannya saat membimbing q menyebrang jalan tuk membeli ice horn arbei, jitakan kecil darinya setiap kali aq lupa membawa tongkat penuntun q, padahal bagiku selama ada adelard, aq tak perlu tongkat itu, dan senandung merdunya yang membuat q lupa waktu.

Prancis membuat Adelard bergairah, dan itu terlihat dari getar suaranya yang berubah setiap kali berbicara tentang negara pujaannya. Menara Eiffel, Arch de Triomphe, Champ Elysee, Place de la Concorde, Musee Du Louvre, begitu banyak tempat yang ia ceritakan yg ingin ia lihat langsung. Adelard, lukisan adalah hidupnya, warna adalah nyawanya. Ia berjanji akan membawakan keindahan Prancis untuk q, gadis buta yang jelas2 tak bisa melihat. Aq hanya bisa menganguk, bersama rasa perih yang ia tinggalkan di sini.

dititik ini, menanti angin bawa langkah mu kembali.

memeluk gelap, merengkuh harap bersama rindu

menyapa mentari, memeluk terik, bercengkrama senja hingga berslimut malam, ttp di titik ini.

berharap waktu tak bertepi agar tak kurang kesempatan ini.

mercy p.1

Mercy untuk terimakasih …

mercy untuk label mahal pada roda empat…

mercy tuk aq,

aq jatuh cinta, pada sentuhan pertama.

ada yang lain setiap kali tangan itu menyentuh pundakq,

ada yang lain saat suara itu memanggil nama q,

bau parfumnya terasa segar, mmm,, bukan, sepertinya itu bau sabun yang ia gunakan.

merasakan nya, mendengarnya, memcium aroma nya,

membuat q membayangkan sosok seperti apa yang ada dihadapan q saat ini.

mercy …

pagi ini aku bangun terlalu dini, tetap saja tak bisa melihat mentari bersinar,

ah.. mentari akan sama saja, terakhir aq melihatnya agak sedikit memerah, senja kata orang..

ah…mentari akan sama saja, terakhir aq melihatnya hampir tenggelam…

sesaat seperti tenggelamnya penglihatan q oleh gelap.

aq merangkul gelap, dan hidup dalamnya selama tahun-tahun terakhir. hasrat q tuk melihat mentari tak lebih besar dari keinginan q tuk membeli kacamata hitam baru.

aq merasakan segala hal untuk bertahan, mendengar seksama untuk mengerti ..

mercy… suara itu memanggilku, nadanya bergetar, kesedihan ada di sana.

aq harus pergi, dan kau akan tetap tinggal

permohonan beasiswa itu d terima mercy…

1 minggu lagi, Prancis….

mercy…

q hadiahkan 1 simpul senyum untuk nya dan berlalu…

1 tahun terakhir, Adelard nama itu mengisi gelap q. Pria dengan aroma sabun, pria dengan sentuhan hangat. pria dengan suara berat dan jika ia bersenandung, aq bersedia menyediakan telinga q 1 hari 1 malam tuk mendengarkanya.

to be continue…

lanjut nulis laporan =)

4 desember… wanita

Sial..

sakitnya sudah tak tertahan lagi, seperti tertusuk perlahan pasti.

sakitnya mengrogoti..

ya beginilah betina, kalau beruntung sakit ini takkan terasa tiap bulannya.

ini anugrah, kodrat, atau apalah kami manusia memberi nama yang kami pikir bisa mengurangi ketidaknyamanan.

tak bsa lagi betina tangguh ini menahannya, seketika q teriakan kata-kata yang tak layak di degar.

tangguh q bilang, karena tak pernah aq tersedu seperti ini. tangguh q bilang, karena tak pernah terisak q seperti ini. tanggu q bilang karna tak pernah q rasa sesakit ini.

ya aq wanita…

ini anugrah, ini kodrat q.

dan aq harus menerimanya.

24 november 2010, bulan

Bulan pergi, seperti biasa aq tak bisa menahan tangis ku.
Air mata ku begitu saja keluar, saat ku sadar, takkan ada lagi sosoknya.
Mulai terlintas apa saja yang telah kuperbuat selama ini dengan menjadikannya sandaran dan alasan akan semua hal.

Aku mentari, bertemu kawan, sahabat, kekasih dan keluarga dalam 1 sosok “Bulan” 2,5 tahun yang lalu.
Kawan saat kami bermain, sahabat karena ia selalu ada, kekasih tuk perhatiannya,dan keluarga karena mau selalu peduli.
Dua setengah tahun, cukup tuk membuat ku sulit menerima kenyataan bahwa tak selamanya bulan ada untuk ku. Ketegaran selalu q tunjukan, karena aq mentari, begitu ia memangilku. tak pernah sekalipun aq menangis dihadapan bulan, senyum selalu q sajikan, kecerian tak habis jika harus berhadapan dengannya.
Hingga hari ini, aq sadar, tak selamanya bulan akan ada disisi,
tak selamanya tangan itu akan merangkul..
tak selamaya mata itu akan mengawasi…
tak selamnya telinganya kan mendengarkan..

Bulan, sosok luar biasa yang selalu ada,
sama seperti namanya, ia ada saat gelap malam, begitu mempesona di tengah jutaan bintang,
unik, hanya ada satu dan aku begitu tergantung padanya.

Hari ini, saat mentari meredup,
saat snyum pun enggan tersimpul di wajah ku..
saat air mata pun telah tak sanggup lagi ku kelurkan..
karena hati ini sudah lelah, akan banyak hal.. saat tertatih q coba berdiri, sendiri…
teringat lagi akan bulan,

mentari meredup..
bersembunyi di antara kesalahan dan kelemahan yang ia punya,
tertatih..

kakek dan rumah tua

Kunci-kunci rumah tua bergemerincing d tangan si penjaga..

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya kakek tua itu mengunci tiap pintu dan menutup setiap jendela yang sudah lapuk termakan waktu.

Sudah menjadi kebiasaan si kakek menyalakan lampu tengah ruang tamu rumah tua ta berpenghuni itu, entah… seperti masih menunggu seseorang kembali dan mengetuk pintu kembali.

Tapi tentu saja, tak ada yang pernah datang berkunjung ke rumah itu…

Kakek tua  sendiri, berteman sepi.  Seolah terbiasa dengan kehadiran sepi dan sunyi yang mengiringinya, dirinya kembali terlelap dalam tidur malam sambil memengang kunci-kunci di tangan rapuhnya.

Kunci-kunci rumah tua bergemerincing d tangan si penjaga..

Malam ini berbeda dengan malam sebelumnya.

si kakek tua tak lagi mngunci tiap pintu dan jendela rumah tua itu…

bukan karena jenuh dengan gemerincing kunci miliknya,

hanya saja tidur  telah merenggut sepi dan sunyi yang selama ini menemaninya  bersama kenangan akan rumah tua itu..

kenangan yang tetap menjadi rahasia antara kakek tua dan rumah tua…

“theresiadancerita sebuah pena”