Fake plastic tree (Radiohead)

Fake plastic tree (Radiohead)

Her green plastic watering can
for a fake chinese rubber plant
in the fake plastic earth
that she bought from a rubber man
in a town full of rubber plans
to get rid…of itself

it wears her out…

she lives with a broken man
a cracked polystyrene man
who just crumbles and burns

he used to do the surgery
for girls in the eighties
but gravity always wins

it wears him out…

she looks like the real thing
she tastes like the real thing
in my fake plastic…love

but I can’t help the feeling
I could blow through the ceiling
if I just turn… and run

it wears me out…
and if I could be who you wanted
if I could be who you wanted
all the time

Happy Wedding.

Bbm masuk ke handphone butut ku membuyarkan lamunan indah tentang makan malam hari ini.

Namaku Dia, seperti biasa sepulang rutinitas kerja, aku beristirahat dikamar, lebih sering tanpa mandi, langsung berbaring di kasur ku yang nemplok di atas lantai yg beralas tikar. Bbm tentang pernikahan sahabatku, membuatku berpikir keras, aku yang berada di pulau seberang, tidak akan bisa hadir minggu depan karena ketiadaan cuti kantor dan uang. Padahal sejak dulu, aku memiliki cita-cita untuk hadir disetiap acara penting sahabat-sahabatku, seperti halnya Ted Mosby di serial “How I Meet Your Mother” selalu lakukan untuk barney, Lily, Marshal dan Robin. Kemudian aku akan menyayikan sebuah lagu romantis dengan suara sumbang  ku, berharap mereka tertawa dan bernyanyi bersama ku. lalu di akhir acara kami akan mengabadikan foto bersama sambil tersenyum lebar, yang akan kami kenang ketika keriput, uban dan gelar nenek-kakek menyertai kami.

tapi semua sekedar lamunan, khayalan atau generasi positif menyebutnya impian.

Satu bulan lalu, aku berpikir akan sangat mudah untuk berpura-pura sakit di hari sabtu, kemudian berangkat ke kampung halaman ku dan kembali kerja di hari senin. Ternyata tidak, Dunia nyata tidak semudah Serial drama yang sering aku tonton dan tidak seindah lamunan sore ku. Aku melupakan kenyataan bahwa tidak ada produser yang membiayai transportasi ku, atau atasan yang dengan mudah meloloskan ijin sakit ku dan teman sekantor yang mau menggantikan pekerjaan ku.

Dengan segala penyesalan karena usaha ku yang tidak maksimal, ku putuskan untuk tidak hadir di hari penting itu. Hanya bermodal bbm permohonan maaf dan selamat kepada pengantin baru, aku mengakhiri sore melelahkan itu dengan tidur lelap, melupakan lamunan tentang makan malam ku dan lamunan tentang tertawa bersama mereka.

Happy Wedding Reg.

Rivers and Roads by The Head and the Heart

A year from now we’ll all be gone. All our friends will move away and they’re goin’ to better places. But our friends will be gone away

Nothin’ is as it has been and I miss your face like hell
And I guess it’s just as well, but I miss your face like hell

Been talkin’ ’bout the way things change, and my family lives in a different state
If you don’t know what to make of this, then we will not relate

Rivers and roads
Rivers ’til I reach you

Doa Tuan……

Quote

Doa ini hadir selalu untuk mu inspirator…

meski jauh kata dari mulut hingga tak bisa tersampaikan.

karena enggan tercipta oleh tembok norma masyarakat

dan rasa ketidaknyamanan yang selalu hadir bila harus bersapa erat kembali.

Tuan….

Semoga dirimu tetap menjadi dirimu,

sosok angkuh penuh percaya diri, yang selalu yakin akan cinta dari sekeliling mu, yang selalu bangga akan kemampuan dirimu.

jangan pernah diam, jangan pernah berubah apalagi berhenti.

jangan pernah putus karya, apalagi hilang karya.

jangan pernah terlintas sekalipun dalam pikiran tuan, bahwa tuan cacat, apalagi bukan siapa-siapa.

Karena dari dulu sampai sekarang, tidak pernah ada yang berubah bagi kami,

tuan, tetaplah tuan.

tak tergantikan dan tak terlupakan.

akhir kata…

semoga, bahagia selalu bersama tuan, agar karya mu tetap ada dan tiada berubah.

Self-labeller and Writing

Pagi ini aku bangun, dengan setumpuk permasalahan kehidupan yang biasa di pikirkan oleh mahasiswa-mahasiswa baru. Disatu sisi, aku berpikir untuk menunggu sampai gelar itu akan ku sandang akhir bulan nanti, tetapi di sisi lain, pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan selalu menunggu untuk ku jawab. Pertanyaan ini bukan berasal dari sekitar ku, tapi dari diri ku sendiri, dari kepala dan hati ini yang gelisah dan ingin segera mendapatkan jawaban pasti. Seperti halnya saat perut mu terasa lapar tetapi otak mu terus menahan diri karena keinginan diet yang begitu besar, begitu lah aku memberi gambaran tentang bagaimana pikiran ku menolak tuk segera di gunakan sebagai seorang pekerja sedangkan hati ku memaksa tuk segera  memastikan jawaban pertanyaan ini. 

Beranjak ku dari tempat tidur mungil, di dalam kamar yg baru aku diami 3 minggu ini. insiden kecil yang mengusik mandi, karena ketukan halus dari tetangga kamar tidak ikut mengusik suasana hati yang cukup baik karena akhirnya mendapatkan sms balasan dari dosen yang akan memeriksa kata perpisahan tuk acara pelantikan nanti. Hah? aku? membacakan kata perpisahan di kampus yang baru satu tahun aku masuki? mengapa bukan mereka yang memiliki paras rupawan atau nilai mendekati sempurna, atau populer di kampus ini? Pertanyaan ini kembali muncul dari pikiran ku, setiap kali bertemu mereka yg terasa lebih baik dari segi apapun dibanding aku. Oke, aku memang self-labeller. Setiap kali merasa kurang mampu menghadapi tugas, pikiran ku dengan segera memberikan label-label baru dan mengirimkan sinyalnya ke seluruh bagian tubuhku, hingga akhirnya otak malas berpikir, tangan malas menulis, mata malas membaca, kaki malas berjalan, beruntung bagiku, sinyal lapar tidak pernah terlambat dan selalu mendominasi, hingga aku tidak pernah kehilangan keinginan untuk tetap memenuhi kebutuhan pangan.

label 1

Suatu hari yang cukup cerah, dimana aku sudah mengawali pagiku dengan mandi, makan dan memakai sedikit sentuhan bedak, tidak lupa pelembab bibir berwarna natural kemudian berangkat kekampus dengan langkah kaki dan senyum ceria, aku bertemu seorang perempuan, salah satu bagian dari angkatan kami, tetapi cukup terlihat berbeda dengan penampilan barunya (rambut pendek yg di cat sedikit pirang id bagian pinggir, blazer biru bercorak bunga, celana pensil dan sepatu yg mampu membuat lubang di tanah karena ketajamannya), dia berjalan dengan percaya diri, memberi senyum kepada semua orang, sambil mengucapkan sapaan yg entah menjadi kebiasaannya atau memang sebenarnya dia lupa nama orang-orang yang ia temui : “hai, Say..”. bertemu dengannya mengingatkan ku tentang draft perpisahan yang aku pegang. pikiran ku kembali bergumanan : ahh.. harusnya di saja yang membacakan ini, karena dia Jauh lebih cantik, Jauh lebih percaya diri; sedangkan aku Biasa saja (nggak mau juga bilang diri sendiri jelek =p), dan kurang percaya diri.

label pertama  : Biasa saja dan kurang percaya diri.

 

label 2

Melanjutkan perjalanan ku di kampus, aku bertemu dengan seorang pria berbadan tinggi besar di depan ruangan administrasi. Aku yang tadinya berdiri di depan loket, menunggu jawaban dari bapak yg ada di seberang sana, mendadak disuruh memanggil Pria ini ketimbang di beri jawaban pasti tentang pertanyaan ku. Pria ini yang juga bagian dari angkatan ku, segera berbicara dengan nada sopan tetapi tetap berwibawa dengan segala urusanyang hanya dia  dan bapak di seberang loket yang tau, semacam menjadi orang kepercayaan dosen-dosen disini. Kembali, pikiran ku bergumam, kali ini cukup membuatku terdiam beberapa saat: ahh, apa jadinya kalau aku tidak bisa berbicara seperti dia, berwibawa dan dipercaya. Sedangkan aku : Bukan siapa-siapa dan tidak berwibawa.

label kedua: Bukan siapa-siapa  dan tidak berwibawa

 

Langkah kaki ku terasa semakin berat menunggu jam Dua siang, saat dimana aku harus bertemu dengan dosen untuk konsultasi kata perpisahan yang kubuat. Pikiran ku terus menerus membisikan kata-kata pesimis yang bisa membuat ku kehilangan kepercayaan diri. Ku putuskan untuk mencari sedikit ketenangan di tempat favorit, Perpustakaan kampus, yang mampu memberikan ku kenyamanan. Jangan pikir aku merasa nyaman karena keberadaan berak-rak buku atau pemandangan sekelompok mahasiswa yang belajar bersama, tentu tidak. Pikiran ku mudah sekali merasa nyaman, semudah perut ku merasa kenyang ketika diisi dengan nasi, lauk dan sayur, begitu juga dengan pikiran ku, cukup merasa nyaman dengan keheningan, kesendirian, kemudian menulis, lalu dengan mudahnya, hati ku akan mencopot semua label-label negatif yang aku cipatakan sekejap  dan mengirim sinyal kebahagiaan menuju pikiranku, mendominasinya tubuhku, sehingga otak mulai berpikir, tangan terus menulis, mata melanjutkan membaca, dan kaki melangkah riang kembali.

Image

 

Surat tuk kamu di negeri seberang.

Hari ini aku terdiam di kamar ku yang bercat kuning kecoklatan, duduk manis di depan selembar kertas dan sebuah pena. Sudah lama aku ingin menuliskan surat kepadamu, aku mencari-cari dalam pikiran ku yang semeraut, kisah apa yang ingin aku sampaikan kepada mu yang jauh di sana.

Sudah lima tahun sejak aku berhenti menuliskan surat kepadamu, berhenti menceritakan kisah hidupku yang biasa saja. Aku tahu saat kau membaca surat ini, kau pasti berpikir betapa egoisnya aku, mencarimu hanya saat memerlukanmu. Maaf, tapi lima tahun terakhir, hidupku disibukan dengan kebohongan yang kulakukan terhadap diriku sendiri.

Oh ya, beberapa tahun terakhir aku bertemu dengan orang-orang yang menemani ku kemanapun aku mau. Aku menyukai mereka, dan aku pikir mereka juga menyukaiku. Kami melakukan banyak hal bersama. Tahun lalu kami pergi ke hutan untuk sekedar mengambil foto kenangan, dan seringkali kami pergi bersama tuk makan malam di cafe terdekat sambil membicarakan masa lalu, tak lupa dengan secangkir kopi pahit favorit kami.

Hidupku terasa sangat berwarna dengan kehadiran mereka, i love them.

Tidak ada yang berubah sampai hari saat aku menuliskan surat ini. Hanya saja, entah dari mana pikiran ini melintas, aku merasa perasaan bahagia ini hanya milik ku sendiri. Saat aku mencoba menginggat moment dimana kami berkumpul, yang bisa aku ingat hanya betap kerasnya tawa ku, betapa kerasnya tangan ku menarik mereka untuk berlari bersamaku, atau betapa seringnya aku meminjam saputangan mereka saat menangis. Aku lupa tuk melihat wajah mereka, apakah mereka tersenyum atau tidak. 

Lima tahun ini, aku hidup dengan mencoba percaya.

Aku ragu kawan, keraguan ini berasal dari mu, dari kenangan dengan mu.  Kenangan saat kita tertawa bersama, berlari bersama, dan saat kau berikan tanganmu untuk menghapus air mataku. Ya, kenangan mu sahabatku. Aku buka lagi lembaran-lembaran foto berdebu milik kita, saat mimpi kita tuk menaklukan dunia kita teriakan kencang sambil berbaring di halaman sekolah.

hey kamu yang ada disana,

Saat kau baca surat ini, tersenyumlah untuk ku, yakinkan aku dari negerimu untuk selalu mencoba percaya. Percaya bahwa mereka yang ada bersama ku sekarang bahagia bersamaku, tersenyum bersamaku, seperti halnya dulu kita. Percaya bahwa, tidak ada kebohongan yang aku ciptakan tuk bahagia. Meski aku tau,aku tidak akan pernah mendapat balasan surat darimu, tapi aku yakin kau akan selalu baik-baik saja, sebaik senyum terakhir yang kau berikan tuk ku. 

Dia

Aside

Dia, wanita kecil yang tidak memiliki apapun kecuali genggaman tangan orang-orang terdekatnya. Hari ini dia berjalan sendiri, meski di sekelilingnya ada sahabat-sahabat yang menemani. Biar ku jadikan dia bahan kisah sederhana ku.

september 1990…

Bersama sambutan senyum hangat keluarga, dia berteriak menangis pertama kali di dunia, dalam peluk ibu dia tertidur menunggu kedewasan hadir.

1997…

Dia duduk di pangkuan seorang ayah yang menangis begitu kencang karena ibu yang tidak pernah akan bangun dari tidur lelapnya.

Hari itu begitu terburu-buru, dia ingat saat ibunya tidak meneguk kopi hitam seperti biasa. Hari terakhir menikmati peluk, dan kebiasaan ibu memberi tanda salib menggunakan jempol didahinya.

Hari terakhir dia merasakan indahnya memiliki seorang ibu yang mengingat rambut pirangnya menjadi dua bagian kemudian menyiapkan segelas susu tuk diminum.

Dia ingat betul, hari itu dia di jemput dari sekolah, sebelum dia sempat mengerjakan soal pertama ujiaanya, saat seorang guru memeluknya dan mengantarnya keruang kelas,tanpa tau mengapa. Hari dimana, dia melihat ibunya terbaring di atas ranjang rumah sakit tanpa berkata sepatah kata pun. Hingga seorang kakak,memapahnya keluar ruangan padahal dia tidak merasa lemas ataupun sakit.

dia ingat betul hari itu, hari dimana dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, apa yang harus dia lakukan meski dia tau bahwa dia takkan pernah bisa bermain dengan ibu.

2002…

Dia tumbuh menjadi anak yang sediki pemalu diantara keluarga, tetapi sangat berani diantara teman-teman. Tahun itu adalah tahun pertamanya mengalami apa yang seharusnya wanita alami di tiap bulan dan di tidak mengerti. tanpa berani bertanya kepada siapapun, dia hanya diam,membiarkan semua berjalan seperti biasa,hingga seorang bibi membantunya mengerti apa yg sedang dia hadapi.

Suatu malam, akhirnya dia menangis, tangisnya tidak kencang, hanya air mata dan isak yang tertahan dibalik selimut. Dia takut membangunkan kakak yang sedang tidur di sebelahnya. Sikecil yang baru beranjak dewasa sadar, dia kehilangan sosok yang sangat berarti baginya 5 tahun yang lalu, tangisnya memang terlambat.

2006…

Suatu hari dia mengambil fotokopian surat yang menyatakan ibunya telah tiada, dia simpan di satu buku. Dia melakukan ini setelah berhari-hari menangis karena harus melangkahkan kaki di bidang yang sama dengan ibunya, tapi seperti biasa isak tangisnya selalu tertahan.

suatu pagi di tahun ini,ayahnya memasakan sarapan dan mengantarnya menuju tempat ujian masuk suatu sekolah. Ayah yang sangat dia cintai memintanya berusaha.

Dia berhasil memenuhi keinginan ayahnya. Lagi…

2008…

ayah…

Tahun kelulusan, seperti biasa sekolah Dia mengadakan acara besar tuk menghantarkan lulusan-lulusan mereka. Ayah sibuk memperhatikan anak yang tadi pagi diantar ke salon, agar tidak kalah dari teman-temannya. Dia berdiri di depan sana, serupa dengan ibunya yang dulu juga ada di sana, ayah tersenyum bangga.

Tahun ini juga, dia berhasil membujuk ayahnya untuk mengijinkannya kuliah di kota sebelah. Dia harus meninggalkan ayahnya seorang diri. Dian ingat betul hari pertamanya dikota orang, dia menangis, bukan karena takut sendiri, tapi karena membayangkan ayahnya berada dirumah sendiri, tanpa dia sebagai teman bicara.

teman…

banyak cinta dari sahabat yang dia dapatkan, rangkulan hangat, genggaman erat dari orang-orang tahun ini membuat dia banyak berterimakasih. Dalam setiap langkahnya di tahun ini, di bertemu orang-orang mengagumkan yang membuatnya berlari mengerjar mimpi.

2012…

sahabat…

Tahun kelulusan sarjana, diruangan kamar, dia mengingat kembali 4 tahun perjalanannya diuniversitas kuning ini. bertemu sahabat-sahabat luar biasa yang selalu menemaninya dalam susah dan senang, bertemu dua sosok kakak yang siap dengan segala nasehat, hingga kota ini tidak membuatnya kekurangan kasih sayang meski jauh dari orang tua.

Merekalah keluarga dia disini, dan meski tak bisa membalas smua kebaikan, selalu  terselip nama mereka dalam doa dia.

ayah…

Dia berdiri dengan toga hitam, kembali ayah tersenyum bangga. Ayah yang bekerja begitu keras tuk membiayai kedua orang anaknya sendirian. Dia ingat betul saat ayahnya sempat sakit, meski hanya demam dan pusing, dia takut, dia tidak mau kehilangan satu-satunya tempat berpegang,jika merasa goyah. satu-satunya orang yang akan menenangkannya jika mimpi buruk menghampiri di tidur lelap dia.

2012 lagi…

sekali lagi dia harus pergi, kali ini kota seberang, mimpi besar yang harus diwujudkannya. Diawali kegagalan kecil di langkah pertama, hingga berhasil ada di kampus yang menjadi khayalannya sejak lama. terpisah dari sahabat  dan keluarga membuatnya mengerti bahwa kaki kita sendiri lah yang akan membuat kita berlari. Meski sering terjatuh, dia bangkit lagi,kali ini dengan semangat yang lebih tinggi.

saat orang-orang yang dulu mjauh,kini kembali mendekat. saat orang-orang yang dulu dekat,kini menjauh, dia hanya tersenyum. Dia tau betul siapa orang-orang yang dia sayangi.

2013..

perjalanan hidup dia masih panjang, masih banyak mimpi yang belum dia mulai rencanakan, mimpi yang dia sedang usahakan, dan mimpi yang telah dia dapatkan.

semua masih berujung dititik yang sama.

 

New day, new city, new life. let’s smile..

Kita berencana, Tuhan memutuskan

Masa depan memang tidak bisa dipastikan. Dua bulan lalu aku berada di kota ini, kota yang biasa orang sebut sebagai kota kembang, aku memegang buku panduan untuk tes psikotest mahasiswa baru di salah satu universitas negeri di Bandung (jangan minta aku menuliskan namanya). Dengan segala rencana-Nya, aku tidak mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan profesi apoteker ku di universitas ini, kecewa memuncak. Segala kesedihan sudah aku tumpahkan dalam rangkaian bentuk makian, aksi cemberut, sampai tangisan. Minggu-minggu pertama yang menyebalkan itu tidak bisa terlupakan.

“Gagal itu keberhasilan yang tertunda”. Untungnya motto sederhana ini tidak asing ditelinga ku. Dengan semua kepercayadiriian ku yang tersisa, aku mencoba bangkit lagi. Masih di kota kembang ini, memegang rangkuman kuliah selama 4 tahun, mencoba bangkit, mengalahkan semua rasa takut akan tantangan di universitas negeri lain di bandung. Institute Teknologi Bandung, impian besar yang sempat dikaburkan oleh rasa takut akan ujian akhirnya yang kata orang paling sulit seantero perguruan tinggi yang mengadakan program profesi apoteker. Aku yang baru saja mengalami kegagalan, kemudian membulatkan tekad dan selama sebulan benar-benar mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk. “kita berencana, Tuhan memutuskan. Pengumumuan di bulan agustus itu menjadi hadiah sekaligus tanggung jawab besar dalam perjalanan hidup ku selanjutnya, ya… aku di terima. Universitas yang dari dulu menjadi impianku pun berhasil aku masuki.

Gagal itu ujian lain untuk mental si pemenang…

Aku mengalami kekalahan besar dalam hidupku, bukan karena gagal di kesempatan pertama di universitas lain itu. kekalahan terbesar ku adalah karena pada saat itu, aku tidak bisa menerima semuanya dengan ikhlas, tidak bisa memberikan selamat tuk sahabat-sahabatku yang berhasil, tidak bisa ikut bahagia, karena mental pecundang. Aku masih belum bisa berkata Iya dan Amin kepada kegagalan ku saat itu.

Hingga aku di tempatkan dalam posisi yang sama, saat aku harus melihat sahabat-sahabatku tidak berhasil, ditengah keberhasilanku. Saat itu aku bisa merasakan saat kita sedang bahagia tetapi dunia sedang menangis, maka kita tidak bisa tersenyum. Ujian lain untuk mengerti perasaan orang lain pun  diberikan.

Sahabat ku menunjukan senyum yang luar biasa tulus, ketika dia tau aku berhasil, sedangkan dia harus menunda keberhasilannya kembali di kesempatan kedua, sahabat kecil yang berhati besar, Akupun belajar, pemenang sejati bukan lah yang berhasil di medan perang, tetapi mereka yang mampu menerima dengan ikhlas akan kegagalannya dan menghadiahkan senyum tulus kepada dia yang beruntung dapat berhasil. Akupun belajar banyak dari kegagalan dan keberhasilan.

Pribadi berubah, tergantung lingkungan dan buku yang dia baca…

Hari pertama pengarahan perkuliahan, hampir saja aku menangis. Bukan karena tertekan, tetapi karen bis bertemu dan berkumpul dengan orang-orang luar biasa yang akan menjadi dosen-dosen ku setahun kedepan dan teman-teman baru yang penuh semangat serta motivasi menjadi lebih baik. Dosen-dosen baru ku hanya memberikan sedikit kalimat, tetapi bagiku itu motivasi yang luar biasa untuk seseorang yang bukan siapa-siapa dan berasal dari universitas yang akreditasinya jauh berbeda. Semangat pun muncul.

Yang paling berat adalah mempertahankan…

Sejak tulisan ini di publish, hal yang paling ingin kulakukan adalah menjaga semangat ini. Impian menjadi good and responsible pharmacy practitioner harus mulai di wujudkan.

 

3 Oktober 2010, Kota kembang.